Apero Fublic (AF)

Apero Fublic nama usaha PT. Media Apero Fublic bidang Jurnalistik.

PT. Media Apero Fublic

PT. Media Apero Fublic adalah perusahaan swasta yang bergerak pada bidang Publikasi dan Informasi.

Penerbit Buku

Ayo terbitkan buku kamu di penerbit PT. Media Apero Fublic. Menerbitkan Buku Komik, Novel, Dongeng, Umum, Ajar, Penelitian, Ensiklopedia, Buku Instansi, Puisi, Majalah, Koran, Buletin, Tabloid, Jurnal, dan hasil penelitian ilmiah.

Jurnal Apero Fublic

Jurnal Apero Fublic merupakan jurnal yang membahas tentang humaniora.

Majalah Kaghas

Majalah Kaghas meneruskan tradisi tulis asli Sumatera Selatan.

Apero Popularity

Apero Popularity adalah produk layanan jasa pembuatan iklan dalam berbagai dimensi.

Apero Book

Apero Book merupakan toko buku yang menjual semua jenis buku (baca dan tulis) dan menyediakan semua jenis ATK.

Buletin af

Buletin Apero Fublic merupakan buletin yang memuat ide-ide baru dan pemikiran baru asli dari penulis.

Jumat, 26 Maret 2021

Pemikiran Masyarakat: Warisan Mental Dijajah Bangsa Indonesia

Mengapa, Pola Pikir Masyarakat Indonesia Menganggap Pendidikan: Sekolah dan Kuliah Hanya Untuk Bekerja???

Buletin Apero Fublic.- Revolusi Industri dan berkembangnya sistem sosial masyarakat dunia, yang diperlukan adalah mobilitas sosial yang teratur. Membuat pihak Kolonial Belanda dahulu terpaksa mendidik pribumi Indonesia untuk dimanfaatkan tenaganya. Belanda, yang negaranya hanya sebesar provinsi Lampung itu tentu sangat kekurangan tenaga kasar.

Dengan demikian, mulai didirikanlah sekolah-sekolah Kolonial Belanda di Hindia Belanda (Indonesia), adalah untuk mendidik sedikit masyarakat Indonesia zaman kolonial untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja kasar mereka. Rencana demikian dibungkus dengan politik etis dan dikemas dengan istilah Politik Balas Budi.

Haji Agus Salim, salah satu tokoh pergerakan kemerdekaan tidak pernah menyekolahkan anak-anaknya zaman Kolonial Belanda. Dia mendidik sendiri anak-anaknya. Karena dia menyadari maksud-maksud tidak baik Kolonial pada tujuan pendidikan mereka. Bukan hanya Haji Agus Salim yang menyadari hal demikian. Tokoh lain, seperti Ki Hajar Dewantara, KH. Ahmad Dahlan, dan Engku Safe’i di Kayu Tanam juga berpendirian demikian. Kiai Ahmad Dahlan melawan dengan cara mendirikan Organisasi Muhamadiyah.

Pendidikan yang diberikan oleh Pemerintahan Hindia Belanda hanya untuk mencetak tenaga-tenaga yang diperlukan di Hindia Belanda masa itu. Karyawan rendah, kasar, menengah, atas, hingga insinyur. Tentu kita semua tahu gelar presiden pertama kita adalah seorang insinyur arsitektur, Ir. Soekarno. Karena Bung Karno banyak belajar, suka berorganisasi dan banyak membaca sehingga dia mengerti tentang bangsanya. Begitu juga dengan tokoh-tokoh bangsa yang lainnya.

Belanda membutuhkan juru tulis, tukang ketik, tenaga birokrasi, pekerja kantor, perawat, dokter, guru, polisi, pegawai pemerintah, dan lainnya. Tentu dalam pimpinan orang-orang Belanda. Begitu juga disektor swasta diperlukan tenaga yang dapat bekerja mencatat, menghitung dan menulis, mandor perkebunan, dan teknis pabrik. Sehingga semua yang selesai sekolah pada zaman kolonial dapat dipekerjakan di sektor-sektor tersebut. Masyarakat kita terbentuk dua golongan, yang sekolah untuk bekerja demikian, yang tidak sekolah untuk bertani, kuli, dan konsumen.

Kondisi pendidikan yang terus menunjang keperluan tenaga kasar berlanjut. Waktu demi waktu, sampai juga pada masa kemerdekaan bangsa kita, tahun 1945. Setelah kemerdekaan pada masa Orde Lama. Kebutuhan tenaga kerja kasar terus berlanjut seiring berkembangnya administrasi dan ekonomi negara Indonesia yang baru merdeka.

Masa-masa awal kemerdekaan pencarian tenaga kerja dan Pegawai Pemerintah masih kesulitan walau hanya sekedar mencari orang yang dapat membaca dan menulis saja. Sehingga masa-masa itu, orang-orang yang sudah sedikit berpendidikan akan langsung mendapat pekerjaan dengan mudah. Misalnya lulus SD, SMP, SMA, apalagi sudah menyelesaikan Perguruan Tinggi.

Masuk dalam rezim Orde Baru dibawah Pemerintahan Otoriter Soeharto. Keperluan tenaga kasar terus berlanjut, seiring bertumbuhnya administrasi pemerintah, berkembangnya ekonomi, dan Pemekaran wilayah Pemerintahan Daerah. Sektor usaha Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, sektor swasta terus bertumbuh. Sehingga tenaga kerja terus diperlukan dan lulusan-lulusan SMA dan Perguruan Tinggi diperlukan.

Dari masa Kolonial Belanda, Orde Lama, sampai akhir Orde Baru semua lulusan sekolah diserap dengan baik pada sektor Pemerintahan, BUMN-D, dan Swasta Nasional dan Daerah. Apabila masyarakat mengamati pendidikan di Indonesia dari generasi ke generasi, dari masa ke masa. Tentu pendidikan adalah untuk mencari kerja atau untuk bekerja. Sehingga pola demikian menjadi kebiasaan dan mulai terbentu tradisi.

Sampai sekarang orang Indonesia berpikir kalau pendidikan untuk mencari kerja atau untuk bekerja diperusahaan atau pemerintahan. Sebagaimana penilaian mereka dari zaman Penjajah Belanda dimana orang selesai sekolah bekerja di perusahaan orang Belanda dan pegawai Pemerintahan Kolonial Belanda. Begitu juga saat merdeka, polah terus berlanjut.

Kalau seorang sarjanah berusaha menjadi petani, wirausaha atau pedagang. Masyarakat beranggapan hal tersebut adalah kesalahan dan cenderung merendahkan mereka. Untuk apa kuliah, kalau tidak bekerja di kantor, pikiran masyarakat kita. Orang yang tidak bekerja di sebuah perusahaan, atau di pemerintahan dianggap tidak bekerja.

Sekarang, Era Tahun 2000 Ke Atas

Pertumbuhan penduduk terus meningkat dan lulusan SMA dan Perguruan Tinggi semakin banyak. Sementara usia pensiun memakan waktu 30 puluh tahun untuk satu pekerjaan. 30 tahun berarti satu generasi. Sementara setiap tahun lulusan SMA dan Perguruan Tinggi, dengan jumlah yang terus meningkat. Tentu lapangan pekerjaan semakin sempit, baik dari sektor pemerintahan, BUMN-D dan swasta nasional. Sektor pekerjaan sekarang hanya bergantung pada pensiunnya seorang tenaga kerja.

Dengan demikian, pemikiran sekolah dan kuliah untuk mencari pekerjaan atau untuk bekerja sudah saat kita tinggalkan. Tujuan sekolah adalah untuk kemanusiaan dan memanusiakan manusia. Pendidikan agar manusia mengerti dimana perbuatan yang benar dan perbuatan yang salah. Bagaimana berpikir baik dan berpikir panjang, bagaimana mengolah keuangan, bagaimana kreatif membangun usaha dan membangun perusahaannya.

Ketika kita sekolah atau kuliah hanya mengejar bagaimana lulus dan mendapatkan ijazah. Lalu mengandalkan bagaimana bergantung pada pemerintah, BUMN-D dan swasta yang sudah lama berdiri. Tentu kita sudah sangat keliru besar dan membawa negara kita pada jurang kemiskinan. Mari kita belajar dan berusaha mencari pengetahuan. Di dalam pengetahuan banyak ditemukan usaha-usaha. Dengan berpengetahuan akan diperlukan oleh sektor usaha, atau menciptakan usaha.

Mari kita tinggalkan pemikiran “sekolah dan kulia untuk mencari kerja atau bekerja,” tapi mari sekolah dan kulia untuk kemanusiaan kita dan memanusiakan manusia. Dimana membangun pola pikir yang baik dan logis. Dengan cerdasnya diri kita, dan semua masyarakat cerdas akan membuat keberkahan hidup kita bersama-sama.

"Ungkapan Orang Yang Bermental Dijajah: Untuk Apa Sekolah atau Kuliah kalau tidak bekerja di kantoran?. Biasanya, kata-kata disambung lebih baik berkebun dan menikah. Karena hidup sekedar makan dan kawin, adalah hal yang diinginkan oleh penjajah dan orang asing agar mereka dapat menguasai kita.

Coba perhatikan foto buruh pengolah biji pala di atas. Begitulah mental Anda saat menganggap sekolah dan kulia hanya sekedar untuk bekerja atau mencari kerja.

Oleh. Joni Apero
Editor. Desti, S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 27 Maret 2021.

Sy. Apero Fublic